Tuesday, July 20, 2010

Chairil Bahar ber puisi : kumpulan puisi

Siang berganti malam, malam berganti siang, sudah berapa kali kita
mengalaminya ?.... dan kali keberapa kita akan menyudahinya ?... Kebahagian demi kebahagian penderitaan demi penderitaan, senang dan susah silih berganti, sudah berapa kali kita mengalamimnya ?.... ketika senang atau susahkah kita mengakhirinya ?.....

Uh…. tak kutahu mengapa aku jatuh lagi begini, dari mana datangmu?, seketika saja, kau tikamkan cinta masa darah membara, dan ingin kumiliki kau, meski hanya dalam jarak dan angka, seperti katamu. Meski kutahu lapis lampau sejarah hidupku, menjauhkanku dari cintamu, tapi kan kutempuh, kan kurajam, meski hanya sepi jua yang mewakiliku merasuk, hingga ke ranjang tidur dan jagamu…

Tindakan teroris adalah satu2nya aksi perlawanan instant dari si lemah kpd si kuat terhadap perlakuan imperialis oleh si kuat kpd si lemah yang sudah tak tertahankan lagi, shg si lemah nekad mengorbankan satu2nya nyawa yang dimilikinya. Kalau ada tindakan teroris tentunya tindakan imperialis masih merajalela diatas muka bumi ini. Seyogyanya TV juga mengupas tindakan imperialis sebagai penyebabnya...

Di ambang senja, lelaki itu di sana. Berdiri tengadah ke arah cakrawala. Jarinya yang gemetar sesekali menyentuh dahi, mengusap peluh tanpa keluh. Aku mengenalnya. Dia yang dengan tangannya mampu meretakkan gunung dan menguras lautan. Berharap menemukan sekeping asa, untuk diberikan kepada istri dan anaknya, bahwa esok, Tuhan masih bermurah hati pada mereka.

Selamat pagi, cinta. lihatlah, mentari mengintip di sela arakan awan, dan rembulan kembali beringsut ke peraduan. Adakah cintamani menyapamu dalam mimpi?, atau terlalu jenakkah tidurmu hingga tak kau rasa kecup di kening dan basah di bibir?.....

Tersebab puisi…. aku seperti kanak lagi, mengenal cinta tidak, apalagi mabuk anggurnya. Tersebab puisi…. aku seperti gadis perawan, didekati tak mau, jikalau pergi merindu akhirnya. Tersebab puisi…. hidupku kian jelas, segan pada angan-menghadang, mati tak rindu, apalagi sekedar dendam. Tersebab puisi…. kutemui segala-galamu, kutandai setiap denting rindu, pada setiap lorong panjangku, dan hanya menatap kaku….

Letih berkisar pada angin, pada lelah kepak sayap, berhari-hari terbang mengambang, mengejar ombak ke tepi nan sepi, segala rasa ingin pergi, sujudkan cinta ke kedalaman laut. Maka telah kutinggalkan, kota-kota yang riuh ramai, yang tak usai mendera diri dalam mimpi, kutuju hutan rimbun, dan juga nyanyian angin, setiap saat datang membisiki, bahwa aku harus kembali, sujudkan segala cinta, ke lubuk hati nan sepi…..Mengertikah kau apa yang ku inginkan?, pahamkah kau apa yang harus kau lakukan?, dapatkah kau selami bahasa yang melekat dalam wajah ribuan manusia yang berdiri di atas tanah ini?. Tubuh kami bukan tak bisa menari menghentak gerak di panggung juang, bukan tak ingin bangun dari onggokan pesakitan bumi ini. Tubuh kami bukan tanpa jiwa, jiwa kami bukan tanpa hati. Tapi kau….calon penguasa, punyakah kau ketiganya?....

Tak kutahu darimana datangmu, hai…. gadis rembulan. Tiba-tiba saja, diantara sesap senyap malam, kutemukan dirimu. Pada bola matamu kulihat cinta, bermekaran bagai kupu-kupu kuning kemilau, menyeruak, menyilaukan mata, mata hatiku. Oh, gadis rembulan, inikah lagi yang namanya cinta yang kau tuangkan ke dalam cangkir dan gelas-gelas dahaga hidupku?....

Malam datang merajam hidupku, sayang… kau tiba… kau hadir… mengalir, menghanyutkan seluruh keluh dan kesahku, keluh yang hanya kaku bertahun-tahun. Akhirnya, segala rindu dendamku terhampar jua, hilang dalam desah rintih malam… Adakah ini dapat kucatatkan, dalam cawan-cawan hidupku lagi, bangkit dari bayang-bayang diri, berlapis-lapis… hingga tak tahu lagi, beda antara rindu dan dendam, antara tawa dan airmata…..

Kueja namamu pada bulan, yang meneteskan malam bersama hujan. Tersebab balada-balada cengeng, dan drama-drama murahan, dada kita gerimis, wajahmu meringis, dan engkau menangis, memelukku, dan mengiris, dalam sajakku… Aku mencintaimu, tapi dengan apa kupeluk dirimu?, sedang tak kupahami katakata itu, maka aku memintamu dengan diamku… Aku ingin mencintaimu… Dalam diamku, izinkan aku mengecupmu, dengan diamku.......

Siapa dia?, ia tak teraba, tak bersuara, tak kenal, tapi dia ada, disana, entah dimana. Biarlah dia, tetap ditempatnya, apa adanya, dalam sunyinya, lukanya, perihnya…. Ia adalah misteri, yang tak ingin kuselidiki. Ia adalah rahasia, yang tak ingin kubuka. Ia adalah teka-teki, yang tak ingin kuketahui. Disana ia jumawa, penuh cinta, menyemburkan bisa, berbahaya. Namun aku merasa ada, dipuja olehnya, dalam tiada….

Dan jalan-jalan lengang kulalui sendiri, rumah sepi, tak ada penghuni, kemana engkau pergi?, aku mencari-cari, memecahkan sebuah misteri….. Tengah malam kesepian semakin menjadi-jadi, hujan turun sejak tadi, kucoba membuat sebuah puisi, tak pernah jadi….. Ketika pagi-pagi aku pergi, mencari matahari, terasa cuma aku sendiri, tak ada yang lain hadir di sini, di hati, begitu berhari-hari…..

Berpegang pada tiang ikhlas, sepotong hati meniti bulanMu, membawa raga dan sukma melintas, berpijak di pasir waktuMu, berharap sampai pada samudera ridhoMu..... Betapa indahnya Bulan Itu, cahayanya berkilau di antara para dewi, menyepuh setiap lekuk wajah bumi, membasuh setiap lembar hati insani, diiringi dengung lafaz kalam Illahi.....

Bersama kita gila, membangun kiamat, rontokkan hutan ngegangsir tambang, gelisahkan laut marahkan udara, bumi oleng, dan babak belur kita diayunnya. Bersama kita gila, merancang neraka, ngerampok masa depan, habiskan harapan, berhalakan impian kobarkan dendam, bumi membara, dan terpanggang kita ditengahnya.....

Setiap pagi dan petang, ilalang bergoyang, inna shalati wa nusuki... rakaat demi rekaat merayap, di dinding rumah: alifku rebah. siang merajut sujud, malam merenda kalam, iqra bismirobikaladzi ... setiap saat kubacabaca 99 nama: jemariku letih. ilalang di belakang rumah, tak lelah, ibadah…

Apakah ia kekasihku?, bukan, tapi aku cinta padanya. Apakah ia belahan jiwaku?, bukan, namun aku separuh hatinya. Apakah ia separuh nyawaku?, tidak, namun aku pelengkap hidupnya. Ia hidup didalam halimun, seperti ia tinggal didalamnya, wajahnya, hatinya, jiwanya, isi kepalanya, berkabut, bahkan kata-katanya !!!...

Di lemari besi kusimpan kata, sebab kata kata berdarah, tumbuh sepanjang lembah… Kusimpan kata kata luka, dalam dada dalam peta dalam tahta, dalam kedalaman rasa….kaupalungkan luka, menganga di dada, di kepala mahkota duri, memberi arti cinta, kasih seputih melati…..

Rasanya kita sudah cukup lelah, mengembara hingga kita berdarah, tak kenal lagi apa yang mesti dinanti, sudah cukup lupa memar di kepala, juga nyeri-nyeri menempel rapi. Di tiap jengkal tubuh kita tergurat rapat, sisa keringat yang telah berkarat, semoga kita bukan korban sejarah, dari zaman lapuk yang lengang....

Tidak akan ada lagi pemimpin yang sebaik Rasulullah, namun datang mencontreng untuk memilih yang lebih baik dari yang ada adalah merupakan salah satu bakti kita kepada negara, nusa dan bangsa…

Gelap…..sesekali kilat memberikan fatamorgana senja, Hujan yang lepas dari langit, mendarat deras di atap, jalan dan bebatuan, juga pada hatiku. Adzan Magrib belumlah terdengar, gelegar halilintar menetak jantungku, memasungku dalam gigil gundah…..


Tidak akan ada lagi pemimpin yang sebaik Rasulullah, namun datang mencontreng untuk memilih yang lebih baik dari yang ada adalah merupakan salah satu bakti kita kepada negara, nusa dan bangsa…
July 8 at 8:56am • Comment • Like

Gelap…..sesekali kilat memberikan fatamorgana senja, Hujan yang lepas dari langit, mendarat deras di atap, jalan dan bebatuan, juga pada hatiku. Adzan Magrib belumlah terdengar, gelegar halilintar menetak jantungku, memasungku dalam gigil gundah…..

Bila harus meyakini dan mengamini, bahwa demokrasi, membawa keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian di bumi. Demokrasi hanyalah permainan, mempengaruhi bahkan membohongi, dan membodohi. Keadilan, kesejahteraan dan perdamaian, hanya akan terjadi, bila telah tiada lagi…………..Ambisi….

Terlalu disibukkan Demokrasi, Hingga lupa harga diri, Dan banyak hak warga Tak terurusi. Negri ini sedang dipermainkan Demokrasi, Yang sebenarnya tak terlalu berarti Bagi rakyatnya. demokrasi hanya bagi pemuja kursi…..

Siang berganti malam, malam berganti siang, sudah berapa kali kita mengalaminya ?.... dan kali keberapa kita akan menyudahinya ?... Kebahagian demi kebahagian, penderitaan demi penderitaan, senang dan susah silih berganti, sudah berapa kali kita mengalamimnya ?.... ketika senang atau susahkah kita mengakhirinya ?......

Di tepi senja, lelaki itu tetap setia di sana. Menanti gelap menyelimuti cakrawala. Kakinya yang lemah sesekali oleng menahan berat tubuh rentanya. Wajah tuanya menyiratkan pengalaman hidup yang bersahaja. Aku mengenalnya, dia yang telah menanam wujudku di rahim ibu, : Ayahku

Aku sebatang flamboyan di musim semi, yang digelayuti senandung resah yang memerih, menanti tiba…..bunga digenggaman, yang meninggalkan pergi di musim gugur. Bilamana lagi dapat kuciumi, wangi di setiap kelopaknya?....

Dini hari, Sunyi sendiri, Tenang kugali, Di dalam diri. Adanya Engkau, Aku terpukau, Kalbu menjangkau, Cahya nan kemilau. Membeku pandang, Rindu menyerang, Hidupku berjuang, Meraih menang.....

Menangkap gelisah di-jiwa-nya, ia menularkan gemetar yang sangat, gerangan racun apa yang ada didalam darahnya?, kerinduan?, bentuknya maya…. Menerima keangkuhan dikata-katanya, ia mengantar luka yang nian, gerangan benda apa yang merobek dinding hatinya?, cinta ? bentuknya tak berupa.….

Cita-cita yang retak dibasuh cinta yang maha hawa mengakar di bumi menghidupi keheningan dan airmata, seberkas zikir secercah doa memilihkan jalanku pada temaram dunia...

Ada yang lagi mode-on, ada yang narsis, ada yang romantis abis, ada yang mencoba jadi pemikir, ada yang dodol selebor, ada yang malu malu, ada yang ngintip ngintip ajah, ada yang pulsanya tanggung…..hehe…............... Selamat siang semua…

Kau katakanlah padaku, apa yang kita bisa tanam dan kelak tuai, ketika harus bercocok di ladang angin?. kurindu, Sangat!, Sungguh!, kapan bijian mengecambah, lalu menguat batang dan dahandahannya, merimbun pula dedaunnya, hingga meranum bebuah yang terdamba, ialah Cinta…............... yang bikin hidup menembaga!....

Aku memuja perempuan itu. Di hadapannya, jutaan katakataku lenyap terhisap ke kedalaman matanya, ribuan warnawarnaku hilang tertelan bening matanya. Aku tak mampu melukisnya. Aku selalu memuja perempuan itu. Di hadapanku, dialah lukisan Tuhan yang paling sempurna. Dia yang pernah membenamkan tubuhku di rahimnya. : Ibuku…….

Ia berkata lewat cinta, ia bertutur dalam syukur, hatinya embun yang merekah, menyegarkan mimpiku. Senyumnya rembulan yang membara, meremajakan langkahku, aku makin habis, saat menembus lapis-lapis kasihnya..

Kini kau pergi jauh, hingga tanganku tak mampu memelukmu, hingga kakiku tak mampu mengejarmu, hingga mataku tak mampu menatapmu, hingga teriak panggilku tak mampu kau dengar. ijinkan aku menangis, ya…biarlah airmata ini jadi samudra, mengantarku berenang mencarimu…..

Dari seberang jalan, aku memanggilmu dengan bisikan, yang dulu selalu kau nantikan, kutuliskan madah cinta, tak seorang pun kan mengerti selain dirimu, sampaikan balasmu pada malaikat cinta. Dari seberang jalan, ada cinta tak berkesudahan…..

Kerlingmu ramah memantik hati, percikkan bara dalam jiwa, membakar ruang mengguncang waktu, hidupkan semua yagn tlah mati, kelopak matamu layar kehidupan, menggulung sesal masa lalu, hadirkan warna masa kini, meraih menantang masa depan…..

Kulidahkan bahasa sajadah bagi sang guru batinku, aku datang mendekap mesjid menguntai wirid, sajadah basah airmata semata. Kupadamkan api benci di hati, kupahamkan api sufi di hati, kumakamkan dendam di hati, kusahamkan iman di hati. Engkau sungguh maha pualam, tak pernah diam….. Subhanallah....

izinkanlah jemari renta terus menari, mengiringi denting lirih dawai hati, walau terkadang tersendat, oleh gerak rasa yang kian penat. Dan tersenyumlah kini, lagu indahMu telah di hembuskan, dari nafas-nafas perindu, menuju setiap lorong kalbu, melewati rongga serunai waktu, menebarkan wangi cinta, yang tak akan habis terkikis usia masa…..

Aku tertekan...dalam genggaman jemari penuh keangkuhan penuh kesombongan. Aku menangis...dalam kesunyian penuh rintihan penuh tuntutan. Aku angkuh...dalam keegoanku bermimpi seperti mereka bermimpi tak peduli apa kata mereka. Aku menuntut...dalam ketertekananku menjadi tempat mereka berpijak untuk berbicara tentang keangkuhan... kesombongan... kesinisan...... Akuuuuu.......

Senada cinta bersemi di antara kita, menyambut anggunnya peranan jiwa asmara, terlanjur untuk berhenti di jalan yang telah tertempuh semenjak dini, sehidup semati. Kian lama kian pasrah kurasakan jua, janji yang terucap tak mungkin terhapus saja, walau rintangan berjuta walau godaan memaksa diriku terjerat, dipeluk asamara....
Tahukah kau...cinta, semalam aku tiba di semenanjung mimpi. Rupanya kau pun sudah berlabuh di sana, menerabas semak di benak yang meliar menebar benih gairah. Rasanya, engkau ini kupu-kupu bersayap indah, dan aku adalah subuh yang menyimpan guruh. Dan, sebelum akhirnya mimpi digerus lelinang embun dan pagi yang beringsut mendekat. Hm....“mengapa kita tidak hidup di negeri mimpi saja?”…..

Detik telah membawa larut, semakin jauh, namun kau belum selesai… merias diri. Akankah kau kenakan gaun indah itu?, bingkisan dari senja, yang di hantarkan di ambang jendela, untuk menyambut kekasihmu….bila nanti tiba. Akankah kau bisikkan dengan manja, lagu cinta terindah sepanjang masa, lalu kau serahkan segalanya….di peraduanmu. Hingga tak ada lagi hasrat dan rasa….yang tersisa.....

Aku… adalah lelaki… Yang tak pernah lelah, mencari wanita. Aku… adalah lelaki… Yang selalu gundah, menunggu wanita. Aku… adalah lelaki… Yang pantang menyerah, memikat wanita. Aku… adalah lelaki… Yang selalu ingin, dibuai wanitaku. Tolong dekati aku… tolong hampiri aku… tolong jamahi aku… Agar aku bijaksana… agar aku bahagia… agar aku merasakan cinta hoo…

Ada yang bilang gila ah… aku gak peduli, ada yang bilang jelek juga gak peduli, ada yang bilang apalah aku gak peduli, ada yang bilang kampung juga gak peduli, ada yang fitnah aku aku gak peduli, ada yang mencibirku juga gak peduli, ada yang benci aku tambah gak peduli, ada yang cinta aku baru ku peduli…..

Sudah kudaki gunung tertinggi, Hanya untuk mencari dimana dirimu, Sudah kujelajahi isi bumi, Hanya untuk dapat hidup bersamamu. Sudah kuarungi laut samudera, Hanya untuk mencari tempat berlabuhmu, Tapi semakin jauh ku mencari, Cinta semakin aku tak mengerti.....

Jika kau dapat melihat parasmu dari mataku, jika kau dapat mendengar suaramu dari telingaku, jika kau dapat menyentuh ragamu dari jemariku, maka kau tahu pasti dirimu tlah perindah hariku...Jika kau dapat cium aromamu lewat kecupku, jika kau dapat resapi mimpimu lewat tidurku, jika kau mau coba meramu hidupmu hidupku, maka kau tahu pasti dirimu tlah perindah hariku....

Angin bertiup, menyadarkan aku, Tepat saat aku mendiamkan diri, Apa yang telah terjadi…kepada diriku. Apakah bulan memihak kepadaku, Dan pijarnya masihkah menghiasi malam, Aku akui kesalahan ini, tak harus aku ulangi…..

Tiba saatnya kita saling bicara, tentang perasaan yang kian menyiksa, tentang rindu yang menggebu, tentang cinta yang tak terungkap. Sudah terlalu lama kita berdiam, tenggelam dalam gelisah yang tak teredam, memenuhi mimpi-mimpi malam kita.....

Jauh di lubuk hatiku masih terukir namamu, Jauh di dasar jiwaku engkau masih kekasihku, Tak bisa kutahan laju angin, Untuk semua kenangan yang berlalu, Hembuskan sepi, merobek hati, Meski raga ini tak lagi milikku, Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup, Entah sampai kapan kutahankan rasa cinta ini.....

aku mentari tapi tak menghangatkanmu, aku pelangi tak memberi warna di hidupmu, aku sang bulan tak menerangi malammu, aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan, selalu itu yg kau ucapkan padaku...

Pagi biar kusendiri, jangan kau mendekat, wahai matahari, dingin hati yang bersedih, tak begitu tenang mulai terabaikan. Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi, begitu terang untuk cinta yang mati, ah… ku coba bertahan dan tak bisa.....
June 29 at 10:32am • Comment • Like

Desir pasir di padang tandus, Segar sang pemikiran hati, Terkisah ku di antara, Cinta yang rumit. Bila keyakinanku datang, Kasih bukan sekedar cinta, Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan, Maafkan bila ku tak sempurna....

Wahai adinda nan elok rupa, sore berlau malam t’lah tiba, adakah hati tenteram terasa?, menyambut larut malam ceria, bermimpi indah didalam surga, memadu kasih dengan satria……….

di entah ia berada, aku masih menunggu, di cemas bergolak dan rindu menggelegak, tak ada pesan kuterima……tak ada. ia tak tahu kelam hatiku. gigir tanganku menari, mengetik pesan penuh waswas: "kau di mana? aku selalu menunggumu.".....

Engkau datang serupa bayang, mengeram dalam tilam kelam, kelambu tidur-jagaku, lalu angin nyeret rahasia-mu. Engkaulah bayang itu, mengusik tidur-jagaku, tiap waktu luput mengusap wajah-mu, dalam bayang rindu, kuseru cuaca berdebu. Engkaulah bayang itu, mengetuk-ngetuk rasa kantuk, lalu dentam rebana bertalu-talu, di hatiku yang merindu…..

Berikan satu puisi untukku, di sini aku mengharap dan merindu. Berikan aku satu untai mantra, tentang menggebunya cinta. Berikan aku desah rindu, titipkan pada udara yang kurengkuh sedalam-dalamnya......malam ini. Berikan aku bara asmara, aku hendak berdiang didekatnya, Berikan aku……

Seperti bulan yang selalu tabah menerangi kelam…kataku, izinkan aku mengirim bencah cahaya agar kau taklah disandung gelap malam. Seperti roda yang terus berputar…katamu, lebih baik kita memilih tunduk pada ketentuan nasib. Ah…kau abaikan kasih paling cinta sepanjang perjalanan rindu. Seperti embun menggantung di ujung daun…kataku, biarlah aku menunggumu…..

Langit berawan membuat mata tak jernih memandang. Bukan kebutaan yang disesalkan, tapi bayangan yang menyesatkan. Bukan ilmu atau kejahilan yang mengacaukan, tapi prasangka yang menggelincirkan. Bukan iman atau kekafiran yang membingungkan, tapi citra yang menjerumuskan. Atau langit yang enggan terbuka?, Atau rembulan yang belum purnama?, Atau matahari yang masih menutup mata?...

Lama kita untai wirid di ujung senja, sementara mega berarak melintas barak persinggahan kita, jejak siapakah membiak sepanjang pantai. Perjalanan kita tlah sampai, di tapal batas arasy menghitung puisi, tiada sangsi menyanyikan irama wangi melati, menapaki jalan sunyi, menggenggam pelita Nur Ilahi Robbi…

Aku kedinginan, Terlalu lama bercanda dengan gerimis, jemari tanganku mulai menggigil, Merindukan dekap panas secangkir kopi, Dan satu teguk terburu, Sekejap meluncur ke lambungku. Aku ingin kopimu. Aku lebih pucat, Saat senyum hambarmu menampar hatiku. Di pagi ketika mendung dan gerimis….

Hitung langkahmu kawan, di setiap harinya, untuk kau dapat, betapa jauh jarak yang kau tempuh, dalam mengenali bayang diri….. Setialah dalam perjalananmu, tandai tempat persinggahanmu, hingga di penghentian terakhir, Peluklah bayangmu…….

Gulita meninggi, bait mengalir dalam bathin, terlisan di hadapan-MU, untuk sebuah asa, masih tergenggam di ujung gelisah, akankah gunung menghadap langit. Malam belum sempurna, lisan mengalir, mengirim airmata, untuk sebuah ketulusan, agar langit tak kehilangan bintang…..

Kelana bawa cerita, derita dara berakhir sudah, lukis kisah mahligai pertemuan, ketika asa bersua rasa. Layaknya kisah seribu satu malam, dongeng pengantar tidur putri kesayangan, tersenyum rama-rama, menggoda bunga hisap madunya, seperti elang pulang ke sarang, terbang jauh tak jua temukan labuh. Tersipu dara, kelana berkata “sudi dara sempurnakan ibadah hamba”…..

Di sini aku berdiri, camar laut menepi, Laut bergejolak, luluh lantak, Angin laut berhembus ke hulu kalbu, Akan tiba waktu, jemari ulur pesona membisu. Tak ada ujung kaitan bertepi, Bayi-bayi suci dalam pelukan sufi, Raih……raihlah Sang Hakiki, Di bibir pantai, di ujung temali hati….

Detik telah membawa larut, semakin jauh, namun kau belum selesai… merias diri. Akankah kau kenakan gaun indah itu?, bingkisan dari senja, yang di hantarkan di ambang jendela, untuk menyambut kekasihmu….bila nanti tiba. Akankah kau bisikkan dengan manja, lagu cinta terindah sepanjang masa, lalu kau serahkan segalanya….di peraduanmu. Hingga tak ada lagi hasrat dan rasa….yang tersisa.

Ia adalah misteri yang tak ingin kuselidiki, ia adalah rahasia yang tak ingin kubuka, ia adalah teka-teki yang tak ingin kuketahui. Disana ia jumawa, penuh cinta, menyemburkan bisa, berbahaya. Namun aku merasa ada, dipuja olehnya.......dalam tiada….

Dihadapanku gelap tapi kelam adalah dia, begitu ia menyebut dirinya sebagai si luka, yang meraung menjeritkan cinta.. cinta.. dan cinta.. Tapi sungguh mati kesima itu tinggal dijantungku, wahai ia demikian sengsara, akibat segala macam puja, yang ia muncratkan, dengan sengaja, kemana-mana, kepada siapa saja…..

Berjalan dalam bayang pohon waktu, memanjang di liku laku. meremang sajakku, kucari di mana putih, hayatnya tersembunyi. Demi kesejatian ucap, meski dengan mata berkaca-kaca merasakan perihnya, sepenuh rasa kukuliti selaput gelap sajakku, kutetak jaringan liar hurufnya, agar terbuka remang tafsirnya, bacalah dalam tafsirmu…..

Sejenak izinkan aku berbaring di ruang peraduan, memejamkan resah di bawah bayang juntai tabir kesunyian, melukis lekuk wajahmu, di atas selembar kanvas ingatan, hingga terhirup semerbak wangi rasa keindahan itu, berpadu kedalam warna dan getar-getar doa, lembut terhembus di atas sajadah yang semakin menua. Dan sudilah kiranya kau menuntunku, “di dalam rengkuhan cahaya cinta”…..


Perempuan yang duduk di beranda, ia sandarkan harapan pada lidah-lidah lentera, yang setia melukis dinding ruang heningnya, lekuk siluetnya setegar pilar menyangga atap kerinduan, yang ia sulam bersama tujuh puluh dua purnama, melewati tapak-tapak usianya. Dengan segala doa ia raih seserpih tajam, dari serabut atap rindunya untuk merajuti dan merenda mahkota, yang kelak menghiasi saat-saat bersimpuhnya cinta…..

Tak ada detak yang berpacu lebih kencang, kecuali ketika namaMu di serukan, Sayang, pun tak ada debar yang begitu menggemuruh, kecuali ketika nafas-nafas luruh bersimpuh. Kerinduan ini, semakin deras mengalir, hingga merasuki lembah jiwa yang paling tubir. Lalu dengan selembar hati berlumur noktah, sebongkah cinta menghantar jiwa yang kini berpasrah….

Jari-jari yang menari, Masih juga menunggu pagi?, Sementara malam masih saja berdiri, Akankah kau beranjak kini??... Jari-jari kian saja menari, Punggung malam makin penat, Dengkuran makhluk yang lelap, Pergilah kini beranjak!!... Jari-jari tak mampu menari, Jari-jari enggan pergi, Jari-jari kini berhenti, karena ia mulai beranjak kini…..

Malam semakin kelam. Tangis gerimis melagukan nadanada ritmis. Dingin angin menghembus perlahan. Dan aku masih di sini. Tegar menanti, hingga tiba saat untuk menepi.....

Janganlah kau berlari!, Aku tak miliki nafas, Mengejarmu di balik mimpi… Gelisah kutitipkan pada deru angin dan hujan badai, Kuingin kau segera kembali, Renungi aku dengan kecup bibirmu….. Jamahi aku dengan tatap matamu, Karamkan aku di dasar hatimu….

Di meja kemunafikan, Siap pula kursi-kursi kebohongan, Dalam gelas-gelas kedengkian, Telah tertuang minuman kepalsuan, Tangan kanan menggenggam topeng siap digunakan menutup kebusukan, Tangan kiri dijilati, hidangan pembukaan, Mantra didaraskan, panjang hingga tak tentu ujungnya, Perbincangan dimulai, kalimat-kalimat berlomba keluar dari mulut penuh bisa…..

Hela nafasku seperti bara, Tangis hati laksana api, Dan aku kini tinggal abu, Saat menantimu di balik debu, Mungkin kau tiupkan badai, Dan berseraklah diriku tanpa daya.....

Maaf…..aku tak pernah ada, Tubuh untuk kau peluk, Bibir untuk kau kecup, Tangan untuk kau genggam, Mata untuk kau tatap, Rambut untuk kau belai, Dada untuk kau bersandar… Maaf……aku tak penah ada, Waktu untuk bersamamu….

Dari seberang jalan, Dapatkah kau tangkap isyarat, Yang kusampaikan lewat bahasa mataku, Dan pada ruang udara yang membatasi kita, Kurajutkan mimpi-mimpi cinta …… Dari seberang jalan, Aku nikmati raut wajahmu, Dan juga peluh hatimu yang terdera rindu menahan, Kukirimkan segera… sayang, Jawab tunggumu akan tanya, cintakah kau kepadaku?...

Aku mendung yang terbelenggu gelisah, Menanti tiba…..gerimis meninggalkannya pergi, Sendiri memucat, Kehilangan bagian hidupnya di perjalanan… Aku cakrawala senja yang galau dalam gelisah, Menanti tiba…..Senja sang kekasih direnggut malam. Bilamana lagi akan dapat kunikmati, Keindahan tatap dan belai mesra?... Aku lelaki yang mencinta dirimu wanita, Lebih dari kecup bibir dan tatap mata….

Engkau menjadi tanahku, Tempat ku tegakkan ragaku. Engkau menjadi airku, Tempat ku lenyapkan dahagaku. Engkau menjadi udaraku, Tempat ku titipkan rinduku. Engkau menjadi pantaiku, Tempat ku labuhkan ombakku. Engkau menjadi senjaku, Tempat ku merangkai mimpiku. Engkau adalah engkau, Tempat aku menjadi aku....

Berikan satu puisi untukku, Di sini aku mengharap dan merindu, Berikan aku satu untai mantra, Tentang menggebunya cinta, Antara kau dan aku, Dari sebuah rahasia, Berikan aku desah rindumu, Titipkan pada udara yang kurengkuh sedalam-dalamnya......pagi ini, Berikan aku bara asmaramu, Aku hendak berdiang didekatnya, Berikan aku… Seluruh dirimu...........

Kalau masih haram juo, awak cubo pulalah minta ampun beko Nyai....

Tahukah kau?, kata kata dalam sajakmu, mengajariku berenang di sungai harap, kemudian menyeretku terbawa arus tak bertepi. Di pucuk malammu, aku ingin menjadi kata dalam sajakmu, karena.....pada sajakmu kutemukan makna rindu.....

Taman mulai temaram, adakah yang kutunggu di bangku kayu jati?, warna kupukupu, angin lalu: ngilu!... Gelap merayap, adakah yang berlagu di ujung jalan itu?, bunga kertas, hujan deras: lemas!... Di bawah matahari merendah, sajadah menghitam basah, adakah yang lebih indah diantara puisi yang kaugubah?, dzikir!.....

Di lemari besi kusimpan kata, sebab kata kata berdarah, tumbuh sepanjang lembah… Kusimpan kata kata luka, dalam dada dalam peta dalam tahta, dalam kedalaman rasa….kaupalungkan luka, menganga di dada, di kepala mahkota duri, memberi arti cinta, kasih seputih melati…..

Marilah....mari kita pintal serat gairah yang sempat retas, menenunnya menjadi lembaran kain asa dan mengenakannya sebelum siang memanaskan hari. Sudahlah....tanggalkan penat badan dan meringkuklah di ceruk dadaku, akan kunyanyikan kidung cinta yang bisa menghantarmu kembali ke buai mimpi..........

Puisi jadi basi....tanpa kita sadari, puisi jadi saksi....tanpa kita pahami, puisi jadi melati....tanpa mewangi, puisi jadi belati....menusuk relung hati, O….abad yang berlari.... melesat tinggalkan kita….sendiri….

Kulidahkan bahasa sajadah bagi sang guru batinku, aku datang mendekap mesjid menguntai wirid, sajadah basah airmata semata. Kupadamkan api benci di hati, kupahamkan api sufi di hati, kumakamkan dendam di hati, kusahamkan iman di hati. Engkau sungguh maha pualam, tak pernah diam…..

Aku bagaikan pemburu, mengejar-ngejar bayanganmu, yang kurindu. Melepas seribu peluru, Melesat ke langit biru. Angin bermain di dahan-dahan jambu, berloncatan di halaman rumahku, riuh di dalam jiwaku. Di luar langit mulai kelabu, dan hujan datang menyergapku. Aku kehilangan jejakmu, aku kedinginan dan beku.....

Kekaguman seolah terus saja memelukku, merindukan kehangatan selalu dalam pelukanmu, tanpa berpikir apa dan siapa dirimu, aku terlanjur....tenggelam dan karam di palung terdalam, yang menyimpan sejuta pesona bayanganmu…..

Kau katakanlah padaku…..kekasih, apa yang kita bisa tanam dan kelak tuai, ketika harus bercocok di ladang angin?. kurindu, Sangat!, Sungguh!, kapan bijian mengecambah, lalu menguat batang dan dahandahannya, merimbun pula dedaunnya hingga meranum bebuah yang terdamba, ialah Cinta…yang bikin hidup menembaga!....

Mengingatmu penuh cinta, adalah segalanya, sanggupkah ku melupa, jika dirimu pernah ada. Malam-malam kenikmatan, alirkan hasrat yang terus berulang, kureguk hingga pagi embun membelaiku, pada sang dewa, kupersembahkan madu….

Aku lelah, Jenuh dengan segala indah, Muak dengan sang waktu, Yang selalu berlalu tanpa menunggu. Kubertanya dengan sunyi, akankah ada lagi, jengkerik malam yang bernyanyi, tanda gulita makin menapaki sepi. Mampukah kujelang esok pagi, dengan kertas putih bersih, karena waktu sangat enggan memegang tangan hari, kulalui tanpa sedih…..

Kulihat kembali raut itu, tampak penuh rona indah, kemesraanku tiba saja muncul, menggugah gairah lama, Oh...engkau berpunya, elok sungguh tak kuasa, bergetar…kobarkan rasa, senyuman menghilang derita.......

Kembali kuberpuisi, Seakan mampu mengisi hari, Kosong ditengah tengah, Kan kuisi dengan apakah?. Andai saja kau disini, Mengapa pula datang sendiri, Jangan kau salahkan siapa siapa, Tanyakan saja tanpa swara.....

Terlalu kusut untuk selembar siang, tapi terlalu gagap bagi majunya senja, awan pekat yang mencegat, lesatan pijaran matahari, perlahan mulai menitikan gerimis, yang tak pernah sendirian, ...h suasana seperti ini, cukup nyaman untuk mata dikatup, atau sekadar melamun….

Hitung langkahmu kawan, di setiap harinya, untuk kau dapat, betapa jauh jarak yang kau tempuh, dalam mengenali bayang diri….. Asal ada cahaya, dan sedikit angin bertiup, maka ringan jua langkahmu….. Setialah dalam perjalananmu, tandai tempat persinggahanmu, hingga di penghentian terakhir, Peluklah bayangmu…….

Diam sejenak, hinggap di hatimu, ribuan tahun, menempuh rahasia, tak selesai-selesai, sebab harum surga, selalu mendekapku. Maka aku tak ke mana-mana, seperti dirimu, terus mengalir, mendarahi jejakku, tak pernah ke mana-mana, walau aku sampai di mana-mana........

izinkanlah jemari renta terus menari, mengiringi denting lirih dawai hati, walau terkadang tersendat, oleh gerak rasa yang kian penat. dan tersenyumlah kini, lagu indahMu telah di hembuskan, dari nafas-nafas perindu, menuju setiap lorong kalbu, melewati rongga serunai waktu, menebarkan wangi cinta, yang tak akan habis terkikis usia masa…..

aku tulis sajak cintaku ini, karena tak bisa kubisikkan padamu, rindu mengarungi senin, selasa, rabu dan seluruh minggu, untukmu... akan kutanam pokok-pokok melati dihatiku, dan akan kuantarkan harumnya pada lubuk hatimu.....

Aku tertekan...dalam genggaman jemari penuh keangkuhan penuh kesombongan. Aku menangis...dalam kesunyian penuh rintihan penuh tuntutan. Aku angkuh...dalam keegoanku bermimpi seperti mereka bermimpi tak peduli apa kata mereka. Aku menuntut...dalam ketertekananku menjadi tempat mereka berpijak untuk berbicara tentang keangkuhan... kesombongan... kesinisan... Aku adalah hitam...yang mereka tempah diatas putih…..

Kerlingmu ramah memantik hati, percikkan bara dalam jiwa, membakar ruang mengguncang waktu, hidupkan semua yang tlah mati. kelopak matamu layar kehidupan, menggulung sesal masa lalu, hadirkan warna masa kini, meraih menantang masa depan. Engkau detak, yang meniadakan jarak, antara cahaya dan gerak, bagai langit yang paling biru, meredam rasa sakit, dalam lembut rindu…..

dihari ini ya Allah….dengan seluruh sujudku, tiada kata2 yang sepadan untuk dapat menyatakan syukurku padaMU atas karuniaMU yang telah kunikmati, dan peliharakanlah aku selalu disisa hidup ini. Atas ridhoMU Allah…. berikanlah nikmat yang berlimpah kepada teman2ku yang telah bersimpati padaku, dan berilah aku kesempatan untuk membalas kebaikannya, terutama bagi janda2 cantik yang baik hati dan berbudi. Amin….

Kata-kata ini takkan pernah berakhir untuk melukiskan keindahanmu. Kasih dan cinta yang kumiliki takkan pernah bisa menandingi kasih dan cinta yang ada padamu, sungguh pun aku telah menjual seluruh hidupku. Kau mengajarkan aku ketulusan dan kelembutan, menempatkan aku pada kedamaian, tak pernah aku mendengar kata-kata jemu dari ucapanmu…..

Ketika hasrat kubuang jauh-jauh, Ketika nafsu kukubur dalam-dalam, Ketika mata kututup rapat-rapat, Ketika telinga kusumbat kuat-kuat, Ketika mulut kubungkam erat-erat, Ketika hidung kututup kuat-kuat, Diam…………, Hening……………, Sepi……….., Kosong….......

dan kusapa kau begitu dekat, lepas dari jarak yang aku jaga, oh...kumasih merasa ada sebuah sekat, menahan bisik tuk membuatmu terjaga, serta aku menunduk dan membisu, mengemas sebuah puisi pengganti lagu, kuselipkan disela pintu hatimu, kutunggu hingga hatiku membatu…

Dinda Natasya
Dinda Natasya Sungguh indah dan panjang Puisi Cinta yang kau cipta....
Dan aku hanyalah perempuan yang merasa bahagia membaca buah karyamu tentang sang cahaya maya.. Seandainya itu adalah aku...!!

Terima kasih atas pujiannya mba’Dinda, saya sangat tersanjung sekali. Saya bukan yang mencipta, hanya sebagai seorang yang belajar menikmati karya2 pujangga, syukurlah kalau anda juga bisa ikut menikmatinya. Terima kasih juga dengan perhatiannya atas hari ulang tahun saya, selamat berkarya Dokter Cinta!....semoga Allah melindungi dan menyayangi anda selalu……

Takkan ku jumpai seorang pun perempuan, selain kau, yang tak henti menebar benih gelora cinta, yang tulus menggantang gebu rindu padaku laksana setia jentayu membilang titis gerimis, yang terus memindai buluh perindu setiap kau beringsut ke peraduan yang digenangi cahaya bulan, dan menuntunku ke buai mimpi…

Ini hari yang indah, dalam sabda sunah, berdandanlah sewangi kasturi, meski kau lelaki, serta jangan lupakan warna itu, sekapas menyerat rapat, memperindah auratmu, lalu berangkatlah kau menuju, rumah kekasih-Mu, tanpa menoleh kearahku, kerangka renta yang terbaring di bawah naungan kamboja.....

waktu terkadang berputar sangat cepat, seperti gasing yang aku mainkan semasa kanak, mencintaimu adalah rasa yang tepat, walaupun kita hanya saling mendekap di batas jarak. aku selalu menunggu malam datang bertamu, membawakan sebuket wangi harapan darimu, menemani kita saling berbagi cerita, tentang rindu yang tak pernah ter-kata....

Kerlingmu ramah memantik hati, percikkan bara dalam jiwa, membakar ruang mengguncang waktu, hidupkan semua yang tlah mati, kelopak matamu layar kehidupan, menggulung sesal masa lalu, hadirkan warna masa kini, merah menantang masa depan…..

Ayah.....kini kau pergi jauh, hingga tanganku tak mampu memelukmu, hingga kakiku tak mampu mengejarmu, hingga mataku tak mampu menatapmu, hingga teriak panggilku tak mampu kau dengar. ijinkan aku menangis, ya biarlah airmata ini jadi samudra, mengantarku berenang mencarimu. "tapi surga itu ada dilangit?"....

Izinka anakmu pergi Bunda, Menyisir cahaya mentari, Merapat di kaki pelangi. merasai hembusan angin, Berteman kabut nan pekat, kan mencoba peluk rembulan, Bahkan menggenggam bintang. Hanya dengan izimu Bunda, Anakmu niscaya kembali, Tuk senantiasa hadirkan senyum di wajah damaimu…

renunganku semakin dalam, menantang pagi, tumbuh liar, dipenuhi bait kejadian, melirik kedua arah, sempat terasing, kemana...masih mencari.....

ketika hidup meredup, ketika kantuk menjadi langka, mataku bukan matahari, dengan cahaya mengasuh bumi, tapi mataku lautan puisi, menyemburkan kata-kata, seperti hujan badai, menembus malammu, meremukkan mimpimu, yang senantiasa perawan, lalu kesunyian merekah, menghidupkan bencana, yang menjadi semesta…..

Di ambang senja, lelaki itu di sana. Berdiri tengadah ke arah cakrawala. Jarinya yang gemetar sesekali menyentuh dahi, mengusap peluh tanpa keluh. Aku mengenalnya. Dia yang dengan tangannya mampu meretakkan gunung dan menguras lautan. Berharap menemukan sekeping asa, untuk diberikan kepada istri dan anaknya, bahwa esok, Tuhan masih bermurah hati pada mereka.

Tahukah kau, cinta, semalam aku tiba di semenanjung mimpi. rupanya kau pun sudah berlabuh di sana. menerabas semak di benak yang meliar menebar benih gairah. rasanya, engkau ini kupu-kupu bersayap indah. dan aku adalah subuh yang menyimpan guruh. dan, sebelum akhirnya mimpi digerus lelinang embun dan pagi yang beringsut mendekat. “mengapa kita tidak hidup di negeri mimpi saja?”…..

Ibu...di malam ini aku kembali merenung, merenung tentang resah dalam hatiku, resah yang selalu membuat aku menangis, resah yang membuat aku menjadi manusia lemah sebagai anakmu... dan kini betul-betul telah aku mengerti, tentang resah hati ini... sungguh saat ini aku ingin, mencium dan bersujud di kakimu, ingin aku membasuh kakimu dengan air mataku….

Siang berganti malam, Malam berganti siang, Sudah berapa kali kita mengalaminya ?.... Dan kali keberapa kita akan menyudahinya ?... Kebahagian demi kebahagian, Penderitaan demi penderitaan, Senang dan susah silih berganti, Sudah berapa kali kita mengalamimnya ?.... Ketika senang atau susahkah kita mengakhirinya ?......

Menari dalam keindahan, Bernyanyi dalam kesejukan, Berjalan dalam kesehajaan, Berbicara dalam keteduhan, Rentangkan tangan menari, Dendangkan nyanyian hati, Luruskan jalan nurani, Itulah kebebasan yang Hakiki.....

Malam semakin kelam. Tangis gerimis melagukan nadanada ritmis. Dingin angin menghembus perlahan. Dan aku masih di sini. Tegar menanti, hingga tiba saat untuk menepi.....

Kau membuatku heran, Siang masih seterik ini, Tapi pancaran matamu membekukan, Kulihat sesal yang dalam dimatamu. Hanya untuk saat ini, Satu yang kupinta, Kala malam menjelang, Biarkan ku lihat cahaya sungai, Dimatamu….

Pergilah!, Ke subuh yang siap membuka cahaya, ke angin yang siap meneteskan hujan, ke tanah yang siap melahirkan bunga, Pergilah!. Begitu banyak yang ditawarkan dunia, Begitu ragam pilihan. Tapi tetap hanya satu jua, Garis akhir segalanya itu, Bahagia…..

Hm Manohara......... berapa juta orang lagi saudara2mu yang tidak cantik yang teraniaya di negeri orang?, kapan saatnya pemerintahmu sanggup melindungi rakyatnya baik di negeri orang maupun di negeri sendiri?...

Ya Allah, bila kemuliaan disepelekan, bila kesabaran dihinakan, bila kesombongan diberhalakan, ubah hamba, jadi bah jadi gempa jadi badai jadi kebakaran, sampai keadilan ditubuhkan, sampai keseimbangan dikembalikan!....

Tak aku peduli akan sakitku, tak aku peduli akan perihku, apalagi hanya dengan sikapmu, yang memang kutahu siapa dirimu. Harapan bisa kububung ke awan, asa bisa kubentang hingga ke seberang, tapi jiwa dan hatiku tak bisa lari, tak bisa pergi dari palung hati, karena dirimu erat mematri, menghabiskan seluruh rasa yang kumiliki.......

Jika harus langkah kakiku terhenti, kuharap bukan terhenti karenamu, Jikapun suatu saat aku mati, kuharap pun bukan mati karenamu. Hati ini memang tak bisa ku ubah, jiwa dan pikiranku pun berakar sudah, Sepertinya cinta ini memang tercurah, hanya untukmu yang selalu buatku gundah.

Sedalam palung di keluasan samudra terdalam, selayaknya aku berenang menyeberangi seluruh samudra yang ada, tak pernah mampu aku menyelam ke dasar samudra hatimu, dan tak kutemui pula keberadaan dirimu yang sesungguhnya... Seluas langit angkasa yang tak mesti selalu biru, yang terbentang memayungi seluruh jagad raya, begitu kasihmu yang mampu kurasakan pada semesta, tanpa mampu membaca dimana batas cakrawalamu....

Huruf demi huruf aku belajar mengejamu, menghabiskan sewindu waktu untuk mengenali kalimat-kalimatmu, bait-baitmu masih samar dalam penjamahanku, aku masih tak mampu mengerti tentang puisi-puisimu.........

mungkin pada akhirnya, seperti dari debu kita kembali menjadi debu, lahir dari rahim bertelanjang melihat dunia, begitu pula akhirnya jalan musafir ini, berpindah dari tempat ke tempat, tak berdamping , kecuali bersama penciptaKu, telanjang dan tak berbekal apa- apa, hanya iman. hanya iman.....

di entah ia berada, aku masih menunggu: di cemas bergolak dan rindu menggelegak. tak ada pesan kuterima, tak ada. ia tak tahu kelam hatiku. gigir tanganku menari, mengetik pesan penuh waswas: "kau di mana? aku selalu menunggumu.".....

kusuguh perjamuan heningku, : secawan peraman darah, bertambul sekerat jiwa, yang kupanggang diatas tungku nuraniku. : kutenggak seteguk, kugigit sekerat, menaik melayung, mabuk bayang. : potongan wajah Sesiapa, saling mendekat membentuk rupa, bibir gemetarnya meyentuh kalbu, melarik. : berkhalwatlah dalam goa suxsmamu.....

Ingin selalu kupersembahkan untukmu, Sajak-sajak yang sederhana, Sekuntum cinta yang sederhana, Segumpal rindu yang sederhana, Sebab hidupku yang sunyi memintaku, Bercinta lebih dari sekedarnya...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, karena bulan baru sembuh dari gerhana.....Dengan isyarat-isyarat cinta pada mata yang tak sempat mengerling lantaran senja semakin rahasia...

Sebaris bayangmu hadir di senja ini, Kulihat tertitip jua asamu, Andai setiap senja adalah sama, Tentu aku bisa selalu hadir, Telusuri bayangmu. Tapi ada kutitip pesan pada senja, Dalam hembusan angin, Dari gugurnya dedaunan, Di sela-sela arakan awan, Hanya saja Setiap senja Selalu berbeda.......

Terlalu disibukkan Demokrasi, Hingga lupa harga diri, Dan banyak hak warga Tak terurusi. Negri ini sedang dipermainkan Demokrasi, Yang sebenarnya tak terlalu berarti Bagi rakyatnya, demokrasi hanya bagi pemuja kursi....


aku bukanlah raja, dengan titah penuh ke-aku-an, tempatku bukanlah istana, aku adalah jasad dengan ruh sederhana, menikmati hari-hariku seadanya....

Malam kian temaram. Bias cahaya rembulan tak lagi menawan. Bahkan kerlip bintang semakin menghilang, tertutup awan yang berarak beriringan dan mewujud mendung yang menggantung. Kau masih di sini, menikmati malammalammu yang sunyi. Berteman dingin angin yang menghembus perlahan, seirama denyut nadimu yang semakin pelan....

tidurlah cinta, tidurlah. telah tanak letih yang kau jerang sepanjang petang, telah genap peluh yang kau bendung sejauh buluh. sudah, tak usah ragu, tilam yang terhampar di sudut dan kesturi yang kutebar memang untukmu, agar jenak tidurmu....

Kehidupan demi kehidupan, Kematian demi kematian, Kesempatan demi kesempatan, Yang Tuhan berikan, Pernahkah terbersit akan kerinduan ingin kembali, Kembali dari mana kita berasal. Padahal disetiap kesempatan,Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang selalu berpesan, Kembalilah kepadaKu, Kembali yang sebenar-benarnya kembali, Kembali menjadi al Awal sekaligus al Akhir.....

Kuingin mencoba menjadi orang pertama yang dirindukannya, pada saat : suntuknya, khawatirnya, sedihnya, nestapanya, gembiranya, gairahnya,…………….birahinya. Atas rahmatNYA, sesuai petunjukNYA dan hanya karenaNYA….

Dalam ucap telinga hati, semesta waktu cerita duka masa lalu, matahari kini hadirkan mimpi, kilau pelangi usai hujan di kaki gunung tak bertuan. Dekap, rengkuh, belai, satusatu musafir hadir, kelana bawa cerita, derita dara berakhir sudah, lukis kisah mahligai pertemuan, ketika asa bersua rasa.

Betapa kuncup bunga mekar berseri, Betapa kicau burung riang bernyanyi, Dan betapa seharusnya engkau sadari, Bahwa kuncup bunga yang mekar berseri, Kicau burung yang riang bernyanyi, Adalah bisikan hati: - Betapa sepi ketika engkau pergi, Aku rindu sekali, Rindu berbincang dari hati ke hati, Dari hari ke hari.....

aku bukanlah ahli nujum, dengan tempayan berisi air sakral, tapi aku mengerti keadaan hatimu, karena kau bukanlah pilihan, tapi takdir yang harus aku jaga, dalam nilai kesederhanaan, lukisan indah dalam jiwa........

Mengisi hujan, dengan Bahorok, dengan atmosfir bocor, dengan gegap derita, mengisi hujan, dengan janji punah, membiarkan hujan, tak punya nama, langkah begitu getir nasib dunia, membiarkan hujan, berlalu kosong, ditangisi karena hampa.....

benarkah kita ini memang Angin?, sekadar melintas dalam sekali desau, yang entah mengapa senantiasa membimbang tiap kali mencari kesepadanan, antara yang dilambangkan garis tangan dan cuaca....

Hitung langkahmu kawan, Di setiap harinya, Untuk kau dapat, Betapa jauh jarak yang kau tempuh, Dalam mengenali bayang diri… Asal ada cahaya, Dan sedikit angin bertiup, Maka ringan jua langkahmu… Setialah dalam perjalananmu, Tandai tempat persinggahanmu, Hingga di penghentian terakhir, Peluklah bayangmu…….

malam telah sempurna. purnama pun telah raya. mari, mari rebah dalam rengkuh rinduku, dan akan kubisikkan ke mimpimu kisah cintamani. kau pun berkeluh paling kesah yang barah sembari tengadah ke angkasa semesta, lalu aku akan melekapmu penuh cinta. sesudahnya, kita bisa tetirah ke mayapada nirwana......

diam sejenak, hinggap di hatimu, ribuan tahun, menempuh rahasia, tak selesai-selesai, sebab harum surga, selalu mendekapku, maka aku tak ke mana-mana, seperti dirimu, terus mengalir, terus mengalir, mendarahi jejakku, tak pernah ke mana-mana, tak pernah ke mana-mana, walau aku sampai di mana-mana........

Gulita meninggi, Bait mengalir dalam bathin, Terlisan di hadapan-MU, Untuk sebuah asa, Masih tergenggam di ujung gelisah, Akankah gunung menghadap langit. Malam belum sempurna, Lisan mengalir, Mengirim airmata, Untuk sebuah ketulusan, Agar langit tak kehilangan bintang.....

Marilah, mari kita pintal serat gairah yang sempat retas. menenunnya menjadi lembaran kain asa dan mengenakannya sebelum siang memanaskan hari. sudahlah, tanggalkan penat badan lalu meringkuklah di ceruk dadaku. akan kunyanyikan kidung cinta yang bisa menghantarmu kembali ke buai mimpi..........

Ibu mendaunkan hati yang remuk, mengajari cinta, melupakan bentuk, ia mengairi kerontang semangat, matanya danau, yang memantulkan setiap bening, bibirnya tasbih, yang meneteskan nabi-nabi, engkau detak, yang meniadakan jarak, antara cahaya dan gerak, bagai langit, yang paling biru, meredam rasa sakit, dalam lembut rindu.....

Aku ingin dipeluk, sampai tumpas tubuh, sampai tandas jiwa, tak tersisa. Aku ingin dipeluk, sampai lunas aku, sampai habis kau, tak tertinggal, Aku ingin dipeluk, sampai sunyi, mati.......

Iiya gw masih betah neh sama FB, malah makin keasyikan, ga' pa2kan?.
seperti matahari yang selalu pergi menjelang malam, katamu, inilah hidup yang datang untuk pergi. ah, kau wariskan beku airmata dan pengap senyap..... seperti bulan yang selalu tabah menerangi kelam, kataku, izinkan aku mengirim bencah cahaya agar kau taklah disandung gelap malam.....

takkan kau jumpai seseorang pun selain aku, yang tak henti menebar benih gelora cinta, yang tulus menggantang gebu rindu padamu laksana setia jentayu membilang titis gerimis, yang terus memindai buluh perindu setiap kau beringsut ke peraduan yang digenangi cahaya bulan, dan menuntunmu ke buai mimpi...........
Hidup ini tidak sesederhana matematik linier Rony, kita juga perlu mengasah rasa cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada diri sendiri...

selamat pagi, cinta. lihatlah, mentari mengintip di sela arakan awan, dan rembulan kembali beringsut ke peraduan. adakah cintamani menyapamu dalam mimpi? atau terlalu jenakkah tidurmu hingga tak kau rasa kecup di kening dan basah di bibir?.....

Di dalam lukaku—luka maha luas, nyeri mengembang menjadi semesta, merahasiakan detik-detik nafas, dalam hening puisi dalam bening cinta, Ada matahari meneteskan rembulan, ketika pohon-pohon merunduk tiarap, maka daun-daun bagai siluman, mengembara ke jantung senyap, menegaskan perih di sekujur dunia........

Di dalam jagat yang maha mungil ini, kurasakan duniaMu meluas, menebalkan rahasia yang tersembunyi, di batin setiap ilmu yang cemas, kata-kata bertabrakan. merobek cahaya diri, memecah pengalaman yang tak pernah tuntas...

Lautku tua, Terbatuk-batuk, Meludahkan nyeri, yang asin, Seasin airmata peradaban. Bumiku renta, Tanah retak, kering, Tak berumput, Miskin embun, Semiskin sedekah cinta. Langitku gelap, Hujan kalap, Memanah manusia, yang merana, Semerana langkah cahaya......

Menari dalam keindahan, Bernyanyi dalam kesejukan, Berjalan dalam kesehajaan, Berbicara dalam keteduhan, Rentangkan tangan menari, Dendangkan nyanyian hati, Luruskan jalan nurani, Itulah kebebasan yang Hakiki.....

Dinginnya ia bukan udaraku namun gigilnya milikku, sepinya ia taklah mendekatiku namun senyapnya untukku, gelapnya ia jauh dariku namun pekatnya dimataku, lukanya ia tak teraba namun perihnya disekujur tubuhku, demikian aku terikat padanya, walau aku merasa buta tak tahu siapa dia sebenarnya.....

ia adalah misteri yang tak ingin kuselidiki, ia adalah rahasia yang tak ingin kubuka, ia adalah teka-teki yang tak ingin kuketahui, disana ia jumawa penuh cinta menyemburkan bisa berbahaya, namun aku merasa ada dipuja olehnya dalam tiada.........

Aku sakit, ini terulang kembali, tak henti berputar-putar, bentuk lingkaran kemarahan, memaki langit, memaki bulan mencaci ribuan jelata yang terkapar, membunuh jiwa-jiwa serakah, aku merindukanmu, tapi siapa?....

Ini tubuh penuh luka, tapi aku tak ingin menyerah, pergulatan harus diteruskan, sampai sehabis-habis darah. Merangkak aku, menggapai aku, gemetar aku. Berdebar aku menggapai ampunMu, berdebar aku menggapai rahmatMu, dalam zikir dalam perjalanan hidupku.

aku bukanlah karang, tahan akan guncangan badai ombak, aku bukanlah ksatria, dengan wibawah penuh keberanian, aku hanyalah manusia dengan kecut jiwa, tapi aku bukanlah hina, aku adalah diantara mereka, berjalan menunduk dan terlunta-lunta, ditopang oleh tongkat ranting yang sangat rapuh, berjuang menaklukkan ego dalam diriku.....

1 comment: