SEHUBUNGAN DG MINUM SUSU, NAH..TOLONG BACA NASEHAT DR DOKTER TAN DI BAWAH INI YA! (sesuai dg ilmu yg juga aku tekuni) Sebagai penambah referensi.
.......................
MAKAN SEHAT & BERGERAK
Akhirnya Dr. Tan memberikan resep sehat bagi setiap pasiennya. Bukan,
...beliau bukan mencatat kalimat-kalimat berbahasa latin untuk diteruskan
ke apoteker dan diubah menjadi tablet, pil, salep atau obat cair, tidak!
Resep yang ditulis oleh Dr. Tan, jangankan seorang apoteker, seorang
tukang sayur yang biasa mampir ke rumah Anda pagi-pagi pun bisa
mengerti.
Apa yang harus dimakan!
"Jangan ada yang protes, makanan yang saya rujuk ini bisa membuat Anda
menikmati hidup atau tidak! Kalau mau sembuh, ya? Anda-Anda ini terlihat
sekali adalah orang yang sudah hampir seumur hidup menikmati hidup
dengan memanjakan lidah ke makanan yang enak, tapi salah!" Dr. Tan sudah
menekankan konsep ini di awal pemberian resep hidup sehatnya.
"Sekarang Anda harus membayar harga nikmat tapi mematikan tersebut
dengan berdisiplin mengikuti apa yang saya berikan" Tukasnya dengan
tatapan tajam.
Apa yang diminta oleh Dr. Tan sangatlah sederhana untuk dimengerti dan
dilakukan, tapi bagi para so called 'penikmat hidup', pastilah
sangat berat untuk dituruti. Saran beliau :
1. "tidak ada gula!"
Orang sering dengan bodohnya mengira bahwa penumpukan lemak itu lahir
akibat konsumsi lemak yang berlebihan. Padahal Dr. Tan mengatakan,
"Manusia itu punya threshold untuk lemak, yaitu rasa mual dan
muak. Jarang ada manusia yang mengkonsumsi lemak lebih banyak dari
kemampuan tubuhnya menerima". Penumpukan lemak dalam tubuh kita,
mayoritas lebih kepada konsumsi gula yang berlebihan dalam segala
bentuk. Kandungan gula yang terlalu tinggi membuat tubuh mengeluarkan
insulin berlebihan untuk menormalkan lonjakan gula darah dan
mengakibatkan kelenjar pankreas lelah. Kerusakan pankreas membuat
penyakit degeneratif yang sangat populer, Diabetes.
2. "buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat"
"Berhenti makan beras, tepung atau sumber karbohidrat umum lainnya!
Kalau Tuhan mau kita makan beras, kita sudah dikasih tembolok dari
lahir!" Masih terkait dengan apa yang diutarakan sebagai konsumsi gula
berlebihan, Dr. Tan menekankan pada karbohidrat akan berubah menjadi
gula, dimana cadangan gula yang berlebihan akan segera ditransformasikan
oleh tubuh dalam bentuk glikogen (disimpan dalam hati - otot) serta
trigliserida (lemak). Angka trigliserida tinggi adalah sumber obesitas
yang sekarang semakin marak menyerang kehidupan manusia.
"Jangan panik, dengan bilang, kalau gak makan nasi badan saya lemas"
Tukasnya sebelum ada pasien yang protes. "Tubuh Anda membangun
kebiasaan, bukan memenuhi kebutuhan. Pernah liat orang yang habis makan,
makanan Padang? Setelah dua jam, bukannya semakin kuat, mereka malah
menjadi mengantuk! So, Anda bilang Anda lemas, kalau tidak makan nasi?"
Dr. Tan memberikan daftar penggantinya segera. Buah dan sayur sebagai
sumber karbohidrat. Ia menyajikan urutan buah-buah yang memiliki
kandungan fructose -gula alami buah- aman. Ia juga menekankan
cara menyajikan sayuran yang baik.
"Jangan bilang Anda sudah makan sayur kalau yang dimakan sayur bening
atau sayur cap cay, itu bukan sayur, itu sampah dalam bentuk sayur!"
Ucapnya dalam nada tinggi. "Sayur dimasak sudah pasti enzyme-nya mati,
gak ada gunanya buat tubuh, paling cuma serat-seratnya aja. Makan
sayuran mentah yang dicuci bersih, kalau takut sama petsisida, ya beli
yang organic atau tanam sendiri di depan rumah!"
3.TIDAK ADA SUSU BINATANG
"Sapi itu begitu anaknya sudah bisa berjalan, ia akan segera berenti
menyusui dan membiarkan anaknya mencari makan sendiri, manusia itu
satu-satunya species yang cukup gob*** untuk mati-matian mencari susu
spesies lain dan merasa membutuhkannya".
Ia kemudian menyambung lagi, "Anak kecil di atas usia 2 tahun dipaksa
minum susu, orang tuanya tidak sadar bahwa anak itu akan mengalami
kesulitan pencernaan, karena cadangan enzyme-nya akan terkuras untuk
mencerna bahan makanan yang semestinya tidak ia konsumsi lagi". Pendapat
yang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hiromi Shinya tentang
Enzyme pangkal atau miskonsepsi dimana intoleransi laktosa kadang
dianggap tidak ada saat sang anak tidak mencret waktu minum susu.
Padahal sang anak menunjukan gejala alergi lain, infeksi kulit, eksim,
gatal-gatal, sembelit, obesitas, mudah terserang penyakit hingga asma.
Saya sih sudah tahu persis fakta bahaya susu sapi. Dari sisi lactose
intolerant, casein, non absorb calcium juga gak ada guna-gunanya
sedikitpun bagi tubuh. Tapi orang lain? Fakta satu ini membuat mereka
terkaget-kaget. Maklum jor-joran uang yang digelontorkan pabrikan susu
memang membuat kampanye kebutuhan manusia terhadap cairan produksi
binatang ini terasa begitu membahana dan menguasai kehidupan kita.
"Kurang apa kalau kita gak minum susu? Kalsium? Bohong pabrikan itu,
kalau gak minum susu kita kekurangan kalsium. Kalsium di susu sapi gak
bisa diserap tubuh manusia, titik!" Ia kemudian menunjukan fakta
kelicikan produsen susu untuk berkelit dari upaya penipuan saat orang
yang minum susu tetap terserang osteoporosis. "Pasti ada tulisan kecil,
sangat kecil, di salah satu sudut kotak atau kaleng susu, yang
menuliskan kalimat semacam 'Harus disertai dengan aktivitas fisik yang
rutin', jadi mereka bisa mengelak dari pasal penipuan ke masyarakat". Ia
juga menertawakan satu produsen susu sapi yang begitu gencar memasarkan
produk susu kalsium tapi diembel-embeli dengan kalimat 'berjalan 10.000
langkah perhari'. "Anda mau nyuruh kakek-nenek yang renta berjalan 10
kilometer sehari? Gak keropos bener, tapi yang ada mereka matek,
kecape'an" ujarnya dengan logat Jawa sangat kental.
4. banyak bergerak
Kalau yang satu ini saya agak ge-er, karena Dr. Tan memberikan konsep
sambil mengacu kepada beberapa tulisan saya yang telah ia baca. "Sistem
limfatik tubuh cuma bisa berfungsi kalau kita bergerak dengan baik,
terimakasih kepada Iyengar dan juga pada Erik yang telah menyampaikan
pemikiran beliau kepada kita lewat tulisan-tulisannya" Ia mengucapkan
ini sambil menatap tajam ke arah saya. Haha, segalak-galaknya beliau
tapi ia punya jiwa fair play yang luar biasa. Sama sekali tidak merasa
terintimidasi dengan apa yang saya lakukan, benar-benar mengacu kepada
kemaslahatan bersama, take a bow, doc!
Menurut Dr. Tan, usaha mati-matian di satu sisi tapi melewatkan sisi
yang lain, adalah upaya yang kadang tidak membuahkan hasil maksimal.
Menjaga makanan tanpa pernah aktif menggerakan tubuh secara benar akan
membuat fitalitas kita terganggu. Demikian pula hal sebaliknya.
KESEMBUHAN HAKIKI
Kekerasan Dr. Tan kepada pasiennya, mengingatkan saya pada salah satu
kalimat dari BKS Iyengar, tokoh utama yoga dunia, saat ia dikritik
karena terkenal sebagai orang yang sangat keras dalam menerapkan
metodenya. "Saya berhadapan dengan orang yang ingin belajar dari saya
dan memperbaiki kerusakan yang telah mereka lakukan. Tapi saat mereka
muncul di depan saya dan melakukan hal yang telah merusak mereka, apa
yang harus saya lakukan?" Tanya Iyengar. "Saya harus bersikap keras dan
menghancurkan kebiasaan lama mereka, agar mereka bisa menumbuhkan
kebiasaan baru yang positif dan membenarkan apa yang telah mereka rusak
selama ini. Mungkin memang ada cara lain yang lebih baik, tapi bagi saya
ini cara terbaik yang bisa saya lakukan" Jawaban tegas dari seorang
tokoh yang buah karyanya dijadikan rujukan utama di dunia kesehatan
modern.
Sama dengan yang dilakukan oleh Dr. Tan ini. Berhadapan dengan
segerombolan pasien yang telah menyia-nyiakan kesehatan mereka dengan
berbagai cara, ia harus berlaku keras dan kejam, untuk membuat pasiennya
sadar dan mengubah gaya hidup mereka sesuai dengan kebutuhan. "Kita
boleh dibilang galak dan saklek, Rik. Tapi kalau mau merubah kebiasaan
buruk orang, kita gak boleh kompromi. Terserah mereka mau melakukan atau
tidak, it's a matter of choice kok" Benar! If you don't like
what we do, don't come to us, but if you think what we do can help you,
so come!.
Sederhana kan?
Kepingin rasanya menyaksikan praktek Dr. Tan ini sampai habis. Sayang
waktu saya terbatas dan harus segera meninggalkan tempat ini. Tapi
sebelum saya pergi, Dr. Tan sempat mengungkapkan serentetan kalimat yang
sangat berharga untuk didengar dan disebarkan. "Kesehatan itu harus
bersifat hakiki. Kalau kita sakit, harus dicari penyebabnya, bukan cuma
gejalanya yang diatasi, itu bukan penyembuhan, tapi mengulur-ngulur
permasalahan" Ia mengarahkan padangannya kepada bapak yang terkena darah
tinggi tadi.
"Kalau cuma mematikan alarm mobil, itu bukan menyelesaikan masalah.
Kalau lampu indikator bensin menyala, ya kita harus mengisi bensin,
bukan menggebuk lampu indikator itu supaya mati!"