Monday, July 19, 2010

Ungkapan hati

Engkau, sungguh, semula kusangka Benar segera beranjak ke Sana, ke Pulang, lalu tiba di ruang yang Lengang, di rumah, di mana segala kaubiarkan Rebah, tenang, sementara aku masih di Sini, memandang bayang, memilahmilah mana yang mesti kubuang, sampai benar bisa menemu yang memang patut dikenang sepenuh sayang. Ah..., ternyata tidak, Bukan? sekali lagi sempat berpeluk, sekali lagi berulang: membintang.

Di larut senja... lelaki itu masih di sana, berdiri tengadah ke arah cakrawala, jarinya yang gemetar sesekali menyentuh dahi, mengusap peluh tanpa keluh. Aku mengenalnya, dia yang dengan tangannya mampu meretakkan gunung dan menguras lautan, berharap menemukan sekeping asa, untuk diberikan kepada istri dan anaknya, dan... semoga esok… Tuhan masih bermurah hati pada mereka...

Tahukah kau... cinta, semalam aku tiba di semenanjung mimpi, rupanya kau pun sudah berlabuh di sana, menerabas semak di benak yang meliar menebar benih gairah. Rasanya engkau ini kupu-kupu bersayap indah, dan aku adalah subuh yang menyimpan guruh. Dan... sebelum akhirnya mimpi digerus lelinang embun dan pagi yang beringsut mendekat.

Dan kusapa kau begitu dekat, lepas dari jarak yang aku jaga, oh...kumasih merasa ada sebuah sekat, menahan bisik tuk membuatmu terjaga, serta aku menunduk dan membisu, mengemas sebuah puisi pengganti lagu, kuselipkan disela pintu hatimu, kutunggu hingga hatiku membatu…

Kembali kuberpuisi, Seakan mampu mengisi hari, Kosong ditengahtengah, Kan kuisi dengan apakah?. Andai saja kau disini.....

Tidurlah cinta… tidurlah. Telah tanak letih yang kau jerang sepanjang petang, telah genap peluh yang kau bendung sejauh buluh. Sudah… tak usah ragu, tilam yang terhampar di sudut dan kesturi yang kutebar memang untukmu, agar jenak tidurmu...

Aku kedinginan, terlalu lama bercanda dengan gerimis, jemari tanganku mulai menggigil, merindukan dekap panas secangkir kopi. Dan satu teguk terburu, sekejap meluncur ke lambungku..... Aku ingin kopimu....

Berikan satu puisi untukku, di sini aku mengharap dan merindu. Berikan aku satu untai mantra, tentang menggebunya cinta. Berikan aku desah rindu, titipkan pada udara yang kurengkuh sedalam-dalamnya......di senja ini. Berikan aku bara asmara, aku hendak berdiang didekatnya. Berikan aku……………

Selamat pagi……cinta. lihatlah, mentari mengintip di sela arakan awan, dan rembulan kembali beringsut ke peraduan. Adakah cintamani menyapamu dalam mimpi?, atau terlalu jenakkah tidurmu hingga tak kau rasa kecup di kening dan basah di bibir?.....

Janji cinta pada rindu, tak jua sampai... cemburu, terlanjur keliru, berseru-seru... begitupun aku. Janji bintang pada langit terang, tak jua datang... bayang, jatuhkan aku pada lukis lekuk siang, layangkan harap sejuta, berbilang... begitulah aku. Janji cinta seperti... janji angin pada kemarau, ingin selalu menatap w...ajah riang, di bola mata yang penuh cinta. Ah... aku ingin seperti bintang : merindui langit...

Seperti pelangi senja_ dinanti, kata berbunga rindu terbaca, tumpahkan gelisah hampir mati, diam berdiamlah, detak indah di jantung kata, menulis indah di hari kita. Jangan pergi tanpa pelangi_ katamu, karena di pelangi senja, tlah kau titip indah kita, jangan tidur tanpa purnama_ katamu, karna cinta kan menyatu di sela pekat malam...

No comments:

Post a Comment